Soal Dimas Kanjeng, Syafii Maarif: Korban Klenik Tidak Punya Mata Batin yang Tajam

Sharing is caring!

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah–Terbongkarnya praktek klenik di Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng membuat public gegar. Kehebohan itu datang dari sebuah desa di Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi menjadi ramai dibicarakan setelah Dimas Kanjeng yang menjadi pimpinan padepokan dijadikan tersangka pembunuhan dan diklaim bisa menggandakan uang.

Pengikut dari padepokan itu merata, dari rakyat biasa hingga elit bangsa. Bahkan ikut menyeret nama besar Marwah Daud Ibrahim PhD, yang menjadi Kepala Yayasan Dimas Kanjeng. Sosok politikus ini tercatat pernah mengemban tugas sebagai anggota DPR RI selama tiga periode, asisten peneliti UNESCO dan Bank Dunia. Marwah Daud kerap dijadikan representasi perempuan politikus intelektual yang paling menonjol di gedung parlemen.

Menanggapi kasus ini, Guru Bangsa Prof Ahmad Syafii Maarif mengaku ikut prihatin. Di era modern dengan ciri rasionalitas yang harusnya dikedepankan, justru masih ada praktek klenik. “Kultur klenik dan serba mistik masih marak di berbagai daerah,” ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1998-2005 itu, Selasa (4/10).

Menurut Syafii Maarif, korban dari praktik klenik tak memandang golongan. Bisa saja memengaruhi siapa pun. “Korbannya bisa saja seorang intelektual yang tidak punya mata tajam dalam membaca fenomena yang irasional ini,” kata Syafii.

Guna mencegah hal itu, kata Buya Syafii, mata batin perlu selalu diasah. Tujuannya agar masyarakat tidak mudah menjadi korban kultur klenik. Dalam KBBI, klenik diartikan sebagai kegiatan perdukunan dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang.

Sebelumnya diberitakan, Dimas Kanjeng Taat Pribadi dijadikan tersangka atas dugaan keterbilabatan dalam sebuah pembunuhan dua orang bekas anak buahnya, Abdul Ghani dan Ismail Hidayah. Mereka dibunuh karena khawatir akan membocorkan dugaan praktik penipuan penggandaan uang. Selama ini, banyak muridnya yang percaya bahwa Dimas Kanjeng memiliki karomah dan bisa menggandakan uang (Ribas).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *